Postkolonialisme dan Wacana Globalisasi Budaya
Ramalan apapun tentang masa depan peradaban dunia belum memiliki arah dan ketepatan yang jelas. Senantiasa ditutupi kekaburan dan kegamangan. Bagaimana tidak, modernitas sebagai sebuah sistem tidak dapat diramalkan dengan pasti arah geraknya. Giddens menyebut modernitas sebagai lokomotif dengan konsekwensi-konsekwensi yang tak terduga (Ritzer, 2003). Kita berada dalam dunia penuh paradoks, di mana idealisasi-idealisasi kita selalu saja berbenturan dengan kenyataan-kenyataan hidup dalam dunia modern.
Dengan menggunakan perspektif analisis budaya, kecenderungan unsur paradoksal dunia modern dengan mudah dapat dibaca pada terjadinya proses pergeseran kebudayaan, dari masyarakat modern ke masyarakat postmodern Melalui jalur kultural, modernisme (baca: postmodernisme) lebih mudah merentangkan sayapnya dan diterima sebagai visi baru peradaban.
Nge-Postmo ala Budaya Global
Globalisasi adalah tanda zaman, suatu globalisasi desa, hilangnya sekat waktu dan jarak. Globalisasi tak hanya ditandai atau identik melalui arus perpindahan modal (ekonomi), tetapi meluas sampai ke wilayah budaya. Globalisasi budaya terjadi sebagai konsekwesi pekembangan baru masyarakat postmodern. Melalui terbentuknya budaya massa atau budaya pop, dunia seakan diciutkan dalam keseragaman dan manusia disatukan di bawah bendera kesadaran yang sama.
Budaya global memang senantiasa terus mengalami pergeseran dan pengulangan. Budaya daur ulang yang terus-menerus direproduksi dan diterima tanpa banyak tanya, untuk apa semua ini. Yang kita tahu, kedatangan budaya global bisa jadi suatu keadaan yang jauh lebih baik, atau sebaliknya suatu posisi penyingkiran yang berarti eksploitatif dan imperialis. Bagaimanapun kedua posisi berlawanan ini adalah suatu kenyataan yang hidup berdampingan. Dan kita hidup didalamnya.
Globalisasi atau menurut istilah James Petras dan Henry Vetlmeyer lebih cocok disebut ‘imperialisme’, pada tingkat analisis budaya postmodern sering dianalogikan dengan Amerikanisasi. Hubungan erat antara budaya dengan Amerika jelas tergambar dalam peran dan otoritas Amerika sebagai produsen ‘budaya Massa’ terbesar di dunia. Dari televisi kabel, jaringan media global, internet, entertaiment, masakan fast food sampai film Hollywood menyerbu ke seantero pelosok dunia. Jika budaya massa kita anggap sebagai ancaman yang serius, maka jelas Amerika adalah ancaman bagi keutuhan budaya lokal.
Postkolonialisme: perayaan perbedaan atau tidak
Tantangan terbesar dari diskursus postkolonial tidak lain—seperti yang dibahas di atas—wacana budaya global. Agresifitas pembentukan budaya massa atau budaya pop seakan mengalahkan dan menunda semua bentuk budaya tanding (yang lokal), kecuali budaya tersebut layak dimasukkan ke dalam pasar budaya global. Mungkin di sinilah salah satu perbedaan cara pandang logika modernisme dan postmodernisme. Jika modernisme selalu cenderung meniadakan dan mensubordinasikan yang lain (the other) atau tradisi lokal, justru postmodernisme merayakan perbedaan kultural dalam ruang-ruang komodifikasi yang inspiratif dan inovatif.
Mungkin ini termasuk kecurigaan yang berlebihan kepada postkolonialisme. Bahwa definisi perbedaan, penindasan, dan terutama postkolonialisme, selalu datang dari arah yang satu yakni dari kaum penjajah. Postkolonialisme dituduh sebagai usaha yang licik dan sekedar membuat redefinisi, mengaburkan dominasi dan hegemoni. “Kita hidup di jaman multikultur, untuk diarahkan ke jaman monokultur”.
Idealisasi-idealisasi kaum postkolonial untuk membentuk sebuah dunia baru tanpa dominasi, multikultur, bertolakbelakang dengan kenyataan imperial dan karakter kompetitif tiap peradaban. Kita tidak hidup dalam ruang ideal postkolonial, kita ada di telapak tangan “globalisasi”. Dipinjami pengetahuan untuk mengidentifikasi diri dan menegaskan diri. Kondisi inilah yang membuat hilangnya tapal batas imajiner antara the same dengan the other.
Reposisi Budaya Tradisional
Multikulturalisme sebagai salah satu varian postmodernisme bertekad untuk mengangkat perbedaan, bahwa perbedaan adalah suatu kemestian dalam budaya yang plural. Bisa saja multikulturalisme dianggap sebagai langkah terakhir pertahanan selera lokal yang makin tergusur. Di tengah serbuan imperialisme budaya global, bagaimana kearifan tradisional bisa bertahan? Jika bisa bertahan, dengan cara apa? Pertanyaan-pertanyaan serius seperti ini, sebenarnya masih terus berkubang pada tingkatan teoritik dibanding praksis.
Dilema terbesar yang mengguncang kearifan tradisional adalah permainan bebas penanda-penanda budaya global. Proses simulasi yang memang dicirikan oleh relatifisme tanda. Untuk menjaga kearifan tradisional dan melawan relativisasi tanda ini apakah mesti melalui metode otoritarianisme tanda. Dalam arti kearifan tradisional manapun sebagai nilai dipertahankan dalam suatu struktur simbolik yang alamiah atau pasti dan menjaganya untuk tidak berdialektika dengan realitas manapun terutama pengaruh modernitas.
Mungkin inilah metode yang sering dipahami dan dipakai oleh kalangan teorisasi budaya lokal untuk mempertahankan forma-forma kearifan tradisional yang berbentuk budaya lokal. Dengan menutup pintu bagi sifat kesewenang-wenangan tanda dan membentuk sifat fasis tanda. Langkah ini memang cukup taktis dengan implikasi serius dalam penerapannya, misalnya munculnya beberapa komunitas budaya tertutup yang menentang segala pengaruh dari luar tradisi mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar